XYHT_-pYZnRrkHEO8HJ84WER1qU Chairil Anwar Dan Semangat Sastra Indonesia | dhimaz of pangeran-kancil
Adsense Link 728 X 15;

Chairil Anwar Dan Semangat Sastra Indonesia

Posted by dhimas agung haryadi 2012-04-28 0 komentar
Adsense Content. recommended 336 X 300
 


Siapa yang tidak pernah membaca, melantunkan, bahkan mendengar cuplikan sajak yang berjudul “aku”. Tentunya, paling tidak kita pernah mendengar, secuplik kata demi kata, bait demi bait puisi yang di buat oleh seorang bertangan dingin ini. Mungkin juga sempat terlintas walaupun sekelebat mengenai karya-karya penyair yang terkenal dengan krawang bekasinya. Ya, itu merupakan salah satu dari karya besar Chairil Anwar. Kalimat-kalimatnya mengalir begitu saja, keluar dari goresan-goresan tinta yang dalam, penuh semangat, tetapi juga sebuah refleksi dalam diri.

Chairil Anwar lahir di Medan, 22 juli 1922. Tulus adalah nama ayahnya dan saleha ibunya. Mereka berasal dari payakumbuh, sumatera barat. Chairil lahir dalam perantauan kedua orangtuanya ke medan. Dia bersekolah di HIS, Medan. HIS merupakan sekolah dasar pada zaman belanda. Kemudian dia melanjutkan ke SMP, yang ada pada Zaman penjajah dulu di sebut MULO. Di sekolah menengah ini dia hanya duduk di kelas pendahuluan (Voorklaas) dan kelas satu, kemudian ia pindah ke jakarta pada tahun 1941, ketika berumur 19 tahun. Dia tidak tamat MULO karena kesulitan ekonomi.

Chairil adalah seseorang yang penuh vitalitas. Ia gemar membaca puisi di luar kepala di depan sahabat-sahabatnya, yang terheran-heran mendengarnya. Sebagai penyair yang cerdas, Chairil memiliki kepribadian dengan individualisme yang kuat. Pendiriannya tegar, cara berpakaiannya pun rapi dan necis. Jadi, Chairil bukan tipe seniman yang berpakaian seenaknya seperti banyak di duga orang.

Pergaulannya luas, dari golongan tingkat bawah sampai tingkat teratas seperti mantan pemimpin RI yang pertama, Soekarno-Hatta. Di kalangan seniman dia bergaul dengan para penyair, penyanyi,pelukis, dramawan/dramawati, dan sebagainya. Dalam lingkaran pergaulan seniman dan budayawan jakarta, Chairil mulai dikenal ketika berusia 21 tahun, pada tahun 1943. Chairil juga bergaul dengan seniman budayawan bentukan tentara jepang (kheimin Bunka Shidoso).

Sejak kecil Chairil suka membaca buku, ketika masih SD dia suka membaca buku sastra yang di baca oleh siswa SMA, bahkan orang dewasa. Penguasaan bahasa asingnya juga, di samping bahasa belanda, bertambah lagi dengan bahasa inggris dan jerman. Dengan tiga bahasa asing ini, jendela sastra dunia terbuaka lebar bagi Chairil.

Sajaknya yang termashur merupakan gambaran hidupnya yang membesit-besit dan individualistis. Hal tersebut tertuang dalam salah satu puisinya yang terkenal dengan judul “Aku”. Semula puisi ini di beri judul “semangat”.puisi ini terkenal karena Chairil mengemukakan konsep hidupnya yang berpusat pada individu yang tegar sampai dirinya menamakan sebagai “Binatag jalang”. Sejak saat itu namanya segera menjadi terkenal.
Telah banyak yang dilakukan oleh Chairil di Khazanah sastra Indonesia. Namun sayang, sewaktu ia masih hidup timbul kehebohan dalam majalah mimbar Indonesia bahwa Chairil melakukan plagiat. Diberitakan bahwa sajaknya yang berjudul “Datang Dara Hilang Dara” merupakan hasil palgiat dari sajak Hsu Chih Mo yang berjudul “A song of the sea”. Tidak hanya itu saja yang ia contoh, tetapi juga banyak sajak-sajak lain seperti “karawang-Bekasi” yang diambil dari sajak Archibald MacLeish yang berjudul “ The young dead soldiers”. Demikian juga dengan sajaknya “ kepada peminta-minta”, “Rumahku”, dan lain-lain. Peristiwa itu sangat mengejutkan dunia sastra Indonesia sehingga timbul polemik antara yang menyerang dan mempertahankan Chairil.

Pembelaan kawan-kawan terdekat Chairil seperti H.B. Jassin, Asrul Sani, dan yang lainnya tidak dapat menutupi kenyataan perbuatan plagiat yang dilakukan oleh Chairil. S.M. Ardan dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa lebih baik menyelidiki dan di akui plagiat-plagiat yang dilakukan oleh Chairil itu, bukan di bantah atau di bela. Namun orang-orang pun tidak dapat membantah peranan dan jasa besar Chairil dalam sejarah sastra Indonesia.
Pada tahun 1948, suami dari Hapsah ini menerbitkan sekaligus memimpin redaksi majalah gema suasana. Namun hal itu tidak bertahan lama. Dan pada tanggal 28 April 1949 ia berpulang ke rahmatullah. Ia meninggal karena Typhus dan penyakit lainnya di rumah sakit umum pusat Jakarta. Chairil di makamkan di pemakaman karet Jakarta. 

Setelah Chairil meninggal, barulah sajak-sajaknya di terbitkan sebagai buku. Diantaranya “kerikil tajam dan yang terempas dan yang putus” (kumpulan puisi, 1949), “Deru Campur Debu” (kumpulan puisi, 1949) dan “Tiga menguak takdir” (kumpulan puisi bersama Asrul Sani dan Rival Apin, 1950). Dan karya-karya yang termuat dalam ketiga buku tersebut di terbitkan dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45 (1956).

Sajak-sajak nya sudah di terjemahkan dalam beberapa bahasa di dunia. Telah terbit sebuah buku yang memuat tulisan tentang Chairil Anwar yang di sertai dengan 35 terjemahan sajaknya. Buku itu berjudul seleted Poems (of) Chairil Anwar. Buku tersebut di terbitkan sebagai salah satu nomor dari The world Poets series (seri penyair Dunia). Hal tersebut atas usaha Burton Rafael dan kawan-kawannya. 

Selain menulis sajak dan prosa, ayah dari Evawani Alissa ini banyak pula menerjemahkan sajak-sajak dan prosa asing. Antara lain sajak-sajak penyair belanda Eduar’du perron dan multatuli, penyair jerman Rainer Maria Rilke, penyair Amerika John Corn Ford. Dan Prosa buah tangan pengarang perancis Andre Gide yang berjudul Pulanglah Dia Si Anak Hilang Dari le Retour de l’enfant prodigue.
Dari Berbagai sumber
 
Aku adalah sebuah puisi karya Chairil Anwar, karya ini mungkin adalah karyanya yang paling terkenal dan juga salah satu puisi paling terkemuka dari Angkatan '45. Aku memiliki tema pemberontakan dari segala bentuk penindasan. Penulisnya ingin "hidup seribu tahun lagi", namun ia menyadari keterbatasan usianya, dan kalau ajalnya tiba, ia tidak ingin seorangpun untuk meratapinya.
Syair:

AKU

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

 
Adsense Content. bottom of article

0 komentar:

Poskan Komentar

berbagi ilmu berbagi wawasan berbagi hidup